Minggu, 21 September 2014

injustice di lingkungan Advokat

Hasil opni dari beberapa rekan rekan advokat mengenai RUU Advokat yg sedang di godok dimana Suatu pemberitaan tendensius alias mengaburkan fakta dan terlalu dibuat-buat alias keliru dgn mengatakan bhw RUU Advokat di buat dg tujuan utk memecah belah dunia Advokat Indonesia, justru faktanya mereka skrg ini yg senantiasa memecah belahkan Advokat diluar OAnya dg dasar BAS PTlah, pdhal masalah Sumpah hakekatnya urusan Advokat ybs dgn Tuhannya, bukanlah komoditi yg hrs diperjual-belikan dgn harga Rp 1,5 Juta s/d Rp 3 Jt-an. Sumpah spt ini hanya akan melahirkan Advokat Nakal alias Bejat. Dan juga masalah BAS ini sudah dianulir oleh Putusan MK 101/PUU-VIII/2009 & Pengawasan Mahkamah Agung RI/Peradilan thd dunia Advokat tlh dicabut oleh 067/PUU-II/2004, sehingga sangat aneh & bertolak belakang dgn UU bila MA-RI msh tetap mengatur dunia advokat. Sehingga patut diduga ada suatu Persekongkolan Jahat alias Gratifikasi, sehingga mrk selalu mengekang Advokat yg nggak punya BAS tatkala sdg beracara/ ketemu dg mereka, asik menanyakan syarat formil atau eksepsi, terus menggunakan kekuasaan Majelis Hakim utk mengusir advokat yg sdg melaksankn profesinya (mewakili pencari keadilan) di ruang sidang, kmdn rekan2 sejawat jg diiming-imingi utk ikut verifikasi & mengikuti ujian ulang (peserta DKPA hrs ikut lg PKPA produk mrk), apa itu tdk namanya memecah belahkan Advokat & pelecehan profesi..Padahal pihak kami mengakomodir advokat dari OA lainnya tanpa paksaan & syarat (hanya hrs punya NPWP Pribadi). Situasi dan kondisi Otoriter &i monopoli ni sdh berjalan lebih dari 5 tahun. Mengakibatkan ribuan advokat diseantero negeri tdk bs menjalankan profesinya dan menafkahi keluarganya. Ini adalah suatu injustice (ketidak-adilan) yg hrs dirubah melalui UU Advokat baru yg lebih akomodatif dan transparan. Sehingga, tercipta Satu Kesatuan Advokat yg utuh & lebih bersinergi dgn kompetisi yg fair, sehat dan berkeadilan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar